Di celah siratan kehidupan........
Suatu hari, saya bersembang-sembang dengan seorang kenalan. Banyak yang diperbincangkan. Kemudian, agaknya setelah merasa selesa dengan perbualan kami, kenalan ini bertanya, kenapa kita kena sembahyang?
Saya kaget dengan persoalannya. Saya ketawa kecil. Mungkin dia hanya ingin bergurau. Saya merenung matanya dalam. Mencari kepastian di sebalik persoalannya. Ada tanda soal yang serius kelihatan di sudut mata itu. Dia mengulangi soalannya. Kenapa kita mesti sembahyang? orang lain tak sembahyang boleh aje hidup senang. mat2 saleh tu, tak sembahyang, tapi berjaya aje dalam pelajaran...
Saya terkasima. Dia benar-benar bertanya. Paling mengkagetkan, saya tidak menjangka persoalan ini ditanya oleh seorang muslim yang saya melihat sendiri dia sembahyang.. (ketika bersama saya, saya tidak pasti di tempat lain). Saya tergaru-garu kepala. Menerima persoalan yang tak terjangka... Saya tahu perlu solat, kerana itu perintah Allah.
Kerana Allah perintahkan kita solat.... saya menjawab berdasarkan iman saya seiring senyuman yakin. Ya, kalau bukan kerana itu, untuk apa lagi kita solat.
Tapi ramai aje orang Islam lain yang tak semayang. ok aje. aman damai.
Aduh... kalut sungguh, bagaimana ni...
Bagaimana untuk memberi jawapan yang memuaskan hati kenalan ini? Kalau dia tahu dan percaya solat itu adalah perintah Allah, tak perlu saya jawab lagi. Memang pun dia tahu...
Setelah merenung seketika, saya merenung anak matanya. Rupanya sekian lama dia menderitai ketidak yakinan kepada solat yang didirikannya. Dia tidak faham. Namun saya bersyukur, dia masih mahu bertanya, masih ada usaha untuk dia mendekati orang-orang yang dirasakannya boleh memberinya kefahaman tentang akidah dan Islamnya.
Kenapa Allah mesti suruh kita semayang. Bukan ada pekdah pun. Kalau saya rajin, saya semayang. Tapi kalau malas, buat apa nak paksa2 semayang, tak ikhlas. Buat apa beribadah tapi tak ikhlas.
Astaghfirullahal azim Dia makin berani mengutarakan. Mungkin dia merasakan tiba orang yang sesuai untuk dia menguraikan selirat yang terbuku di hati. Kasihan dia, timbul simpati di hati saya. Mungkin sebelum ini, dia tidak ketemu jawapan dalam pencarian dirinya ini.
Saya cuba memikirkan analogi yang termudah yang boleh untuk memahamkannya.
Begini, kenapa kita makan?
Untuk hidup.
Kalau kita malas makan atau tidak berselera untuk makan, boleh tak kita tak payah makan? Bukankah kalau kita makan jugak, kita tak ikhlas?
Kita akan lapar, dan kita akan rasa ingin makan juga selepas itu.
Rasa lapar adalah nikmat Allah. Kekadang Allah uji kita dengan menarik nikmat lapar. Kita tak terasa nak makan, tak de selera makan. Berhari-hari tak de selera. Akhirnya badan kita susut. Camana, nak makan tak?
Mestilah kena makan, dia menjawab getus.
Habis, tak ikhlas, camana? Mana boleh telan makanan? Saya sengaja menguji
Tak pelah, asal makanan masuk perut. Dia menopang dagu dengan tangan. Pandangannya kian tajam.
Tak pelah, paksa2 jugak makan, kalau tak, kena penyakit lain pulak, gastrik ke, apa ke...
Ha, tulah. Dalam Islam, makan tu hukumnya harus. Tapi, ada ketika, makan jadi wajib, contoh, dalam keadaan tadi. Kalau tak makan, akan memudaratkan diri kita.
Kenapa Allah mewajibkan kita makan walau kita akan tak ikhlas makan?
Dia terkebil2 memandang saya.
Sebab Allah yang ciptakan kita. Allah tahu keperluan hidup kita. Jadi, Allah mewajibkan apa yang perlu untuk diri kita. Kekadang kita pun tak tahu keperluannya kepada diri kita, tapi Allah Maha Mengetahui. Macam tu jugak solat...
Dan... kita nak tahu, kena ada ilmu, sebagai kita tahu kena makan walau pun kita tak berselera langsung. Kalau kita tak tahu perlunya makan, kita akan keep on tak makan, sampailah kita kena gastrik, atau mati.
Nak ada ilmu, kita kena belajar....
Ilmu ttg makan tadi (nama) dapat dari mana?
Dari sekolah. Dia menjawab tulus.
Ok, kalau nak tahu ilmu tentang ibadah2 kita kena hadiri majlis-majlis ilmu agama.
Dia tunduk. Dia kemudian bercerita kepada saya, betapa di UK ini, dia agak terkesan dengan pergaulan dengan non-muslim. Budaya dan amalan agama yang berbeza kekadang menyebabkan dia terkeliru. Sekian lama persoalan demi persoalan menerjah benaknya. Tetapi tiada sesiapa yang boleh dia dapatkan jawapan. Yang sebenarnya dia pun segan untuk bertanya. Dia punya kawan-kawan muslim, tapi kurang pula mereka berbicara soal-soal sebegini. Dia tersedar hari ini, dia perlu mengisi diri dengan ilmu-ilmu agama untuk menyelamatkan akidahnya. Benar, cabaran di sini adalah 'silent death'. Kita tak sedar kita telah kehilangan.... Dia mengaku.
Saya memberitahu kami di Dundee ada usrah setiap bulan, membincangkan perkara fardhu ain sebagai seorang muslim. Dia tertarik. Dia ingin turut sama. Tapi geografi membatasi. Saya mempelawa dia untuk mengikuti usrah kami, di Dundee. Dia terasa gembira untuk turut serta. Tengoklah, kalau Allah izinkan...dia akan bersama-sama kita di Dundee...
Saya mencadangkan dia mencari usrah di tempat dia. Ilmu tidak akan datang bergolek. Kita perlu mencarinya.... Tak perlu malu untuk bersama-sama mendalami ilmu agama....Mudahan kita selamat di dunia akhirat. Kita tidak tahu mungkin esok lusa kita dipanggil oleh Yang Esa..
Saya menitip suatu kisah buat dia.... merenungi dan menghayati antara bukti kekuasaan Allah dan rahmatNya... Allah Taala Maha Mengetahui apa yang terbaik buat kita....yakinlah dengan janji Allah, usah segan memohon dariNya...
Kisah Penjual Tempe
Ada seorang hamba Tuhan (yang berasal dari Surabaya), yang menceritakan
kejadian seorang ibu penjual tempe. Peristiwanya terjadi di sebuah desa di
Jawa Tengah Seorang ibu setengah baya tersebut sehari-harinya adalah
penjual tempe di desanya. Tempe yang dijualnya merupakan tempe yang
dibuatnya sendiri.
Pada suatu hari, seperti biasanya, pada saat ia akan pergi ke pasar untuk
menjual tempenya, ternyata pagi itu, tempe yang terbuat dari kacang kedele
itu masih belum jadi tempe alias masih setengah jadi.
Ibu ini sangat sedih hatinya. Sebab jika tempe tersebut tidak jadi berarti
ia tidak akan mendapatkan uang karena tempe yang belum jadi tentunya tidak
laku dijual. Padahal mata pencaharian si ibu hanyalah dari menjual tempe
saja agar ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam suasana hatinya yang sedih, si ibu yang memang aktif beribadah
teringat akan firman Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan
perkara-perkara ajaib, bahwa bagi Tuhan tiada yang mustahil. Lalu iapun
mengangkat kedua tangannya berdoa diantara beberapa batangan kedele yang
masih dibungkus dengan daun pisang tersebut.
Tuhan, aku mohon kepadaMu agar kedele ini menjadi tempe, Amin. Demikian doa
singkat si Ibu yang dipanjatkannya dengan sepenuh hatinya.Ia yakin dan
percaya pasti Tuhan menjawab doanya. Lalu, dengan tenang ia menekan-nekan
dengan ujung jarinya bungkusan bakal tempe tersebut.
Dengan hati yang deg-deg-an ia mulai membuka sedikit bungkusannya untuk
melihat mujijat kedele jadi tempe terjadi. Lalu apa yang terjadi Dengan
kaget dia mendapati bahwa kedele tersebut masih tetap kedele.Si Ibu tidak
kecewa. Ia berpikir bahwa mungkin doanya kurang jelas didengar Tuhan.
Lalu kembali ia mengangkat kedua tangannya berdoa diantara beberapa
batangan kedele tersebut. "Tuhan, aku tahu bahwa bagiMu tiada yang
mustahil.Tolonglah aku supaya hari ini aku bisa berdagang tempe karena
itulah mata pencaharianku Aku mohon Tuhan jadilah ini menjadi tempe, Amin".
Dengan berharap iapun kembali membuka sedikit bungkusan tersebut.Lalu apa
yang terjadi? Dengan kaget ia melihat bahwa kacang kedele
tersebut??????..masih tetap begitu !
Sementara hari semakin siang dimana pasar tentunya akan semakin ramai.Si
ibu dengan tidak merasa kecewa atas doanya yang belum terkabul, merasa
bahwa bagaimanapun sebagai langkah iman ia akan tetap pergi ke pasar
membawa keranjang berisi barang dagangannya itu. Ia berpikir mungkin
mujijat Tuhan akan terjadi di tengah perjalanan ia pergi ke pasar. Lalu
iapun bersiap-siap untuk berangkat ke pasar.
Semua keperluannya untuk berjualan tempe seperti biasanya sudah
disiapkannya. Sebelum beranjak dari rumahnya, ia sempatkan untuk mengangkat
kedua tangannya untuk berdoa. "Tuhan, aku percaya, Engkau
akan mengabulkan doaku. Sementara aku berjalan menuju pasar, Engkau akan
mengadakan Mujijat buatku, Amin". Lalu ia pun berangkat. Di sepanjang
perjalanan ia tidak lupa baca doa dalam hati.
Tidak lama kemudian sampailah ia di pasar. Dan seperti biasanya ia
mengambil tempat untuk menggelar barang dagangannya. Ia yakin bahwa
tempenya sekarang pasti sudah jadi. Lalu iapun membuka keranjangnya dan
pelan-pelan menekan-nekan dengan jarinya bungkusan tiap bungkusan yang ada.
Perlahan ia membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang
terjadi? Ternyata saudara - saudara ???????? tempenya
benar-benar???????????????..??. belum jadi!
Si Ibu menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam-dalam. Ia mulai kecewa pada
Tuhan karena doanya tidak dikabulkan. Ia merasa Tuhan tidak adil.
Tuhan tidak kasihan kepadanya. Ia hidup hanya mengandalkan hasil menjual
tempe saja. Selanjutnya, ia hanya duduk saja tanpa menggelar dagangannya
karena ia tahu bahwa mana ada orang mau membeli tempe yang masih setengah
jadi.
Sementara hari semakin siang dan pasar sudah mulai sepi dengan pembeli.Ia
melihat dagangan teman-temannya sesama penjual tempe yang Tempenya sudah
hampir habis. Rata-rata tinggal sedikit lagi tersisa. Si ibu tertunduk
lesuh. Ia seperti tidak sanggup menghadapi kenyataan hidupnya hari itu. Ia
hanya bisa termenung dengan rasa kecewa yang dalam. Yang ia tahu bahwa hari
itu ia tidak akan mengantongi uang sepeserpun.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sapaan seorang wanita. "Bu...?..! Maaf
ya..., saya mau tanya. Apakah ibu menjual tempe yang belum jadi ???".
Soalnya dari tadi saya sudah keliling pasar mencarinya. Seketika si ibu
tadi terperangah. Ia kaget. Sebelum ia menjawab sapaan wanita di depannya
itu,dalam hati cepat-cepat ia berdoa "Tuhan?.saat ini aku tidak butuh tempe
lagi. Aku tidak butuh lagi. Biarlah daganganku ini tetap seperti semula,
Amin".
Tapi kemudian, ia tidak berani menjawab wanita itu. Ia berpikir
jangan-jangan selagi ia duduk-duduk termenung tadi, tempenya sudah jadi.
Jadi ia sendiri saat itu dalam posisi ragu-ragu untuk menjawab
ya kepada wanita itu. "Bagaimana nih ?" ia pikir. "Kalau aku katakan
iya,jangan-jangan tempenya sudah jadi. Siapa tahu tadi sudah terjadi
mujijat Tuhan?" Ia kembali berdoa dalam hatinya, "Ya, Tuhan,biarlah tempeku
ini tidak usah jadi tempe lagi. Sudah ada orang yang kelihatannya mau beli.
Tuhan tolonglah aku kali ini. Tuhan dengarkanlah doaku ini.." ujarnya
berkali-kali.
Lalu, sebelum ia menjawab wanita itu, ia pun membuka sedikit daun
penutupnya. Lalu??apa yang dilihatnya Saudara-Saudara....???..?
Ternyata....memang benar tempenya belum jadi Ia bersorak senang dalam
hatinya."Alhamdulillah", katanya.
Singkat cerita wanita tersebut memborong semua dagangan si ibu itu.Sebelum
wanita itu pergi, ia penasaran kenapa ada orang yang mau beli tempe yang
belum jadi. Ia bertanya kepada si wanita. Dan wanita itu mengatakan bahwa
anaknya di Yogya mau tempe yang berasal dari desa itu. Berhubung tempenya
akan dikirim ke Yogya jadi ia harus membeli tempe yang belum jadi,supaya
agar setibanya disana, tempenya sudah jadi. Kalau tempe yang sudah jadi
yang dikirim maka setibanya disana nanti tempe tersebut sudah tidak bagus
lagi dan rasanya sudah tidak enak lagi.
Apa yang bisa kita simpulkan dari kejadian ini ?
Pertama : Kita sering memaksakan kehendak kita kepada Tuhan pada waktu kita
berdoa padahal sebenarnya Tuhan lebih mengetahui apa yang kita perlukan.
Kedua : Tuhan menolong kita dengan caraNya yang sama sekali di luar
perkiraan kita sebelumnya.
Ketiga : Tiada yang mustahil bagi Tuhan
Keempat : Percayalah bahwa Tuhan akan menjawab doa kita sesuai dengan
rancanganNya.
"God has reasons for allowing things to happen. We may not understand his
wisdom but simply, we have to trust his will."
Alhamdulillah, saya sungguh bersyukur, Allah mengurniakan hidayah buat hambaNya ini. Dan saya insaf hidayah itu tidak akan hadir andai dia tidak membuka pintu hatinya untuk menjemput hidayah itu agar hadir...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home